Kisah Perjalanan Hidup
Ambariyah
Ambariyah
lahir di Magelang, pada tanggal 31 Desember 1971. Ia lebih akrab dipanggil
Ambar di desanya. Ambariyah lahir dari pasangan yang bernama Mujazin dan Siti
Dariyah. Bapaknya bekerja mengurus kerbau-kerbaunya serta menjual kambing dan
sapi di pasar hewan. Ibunya bekerja di sawah mengurus padi dan sayuran di sawah
miliknya. Ia adalah anak kelima dari sepuluh bersaudara. Ia tinggal di desa Semali
Salamkanci Bandongan Magelang.
Ambariyah memulai pendidikannya di SDN
2 Salamkanci yang tak jauh dari rumahnya. Ia berangkat bersama teman-temannya
dengan berjalan kaki. Sebelum berangkat sekolah biasanya ia menyiapkan sarapan
untuk adik-adiknya dan ayahnya. Ia selalu mendapat bagian menanak nasi. Setelah
itu berangkat ke sekolah. Pulang sekolah ia langsung memasak lagi untuk makan
ayahnya karena ibunya yang berada di sawah. Ketika sore hari tiba, ia biasanya
bermain bersama teman-temannya ke sawah mencari buah-buahan atau bermain masak-masakan
serta bermain kesungai untuk mandi atau bermain air. Malam harinya ia pergi
mengaji dengan kakaknya dan adiknya. Ia mengaji di tempat saudaranya. Biasanya
Ia dan kakaknya pulang paling akhir karena menunggu adiknya yang selalu kena
hukuman karena tidak hafal saat disuruh untuk hafalan ke depan. Setelah mengaji
ia pulang kerumah langsung makan dan berlajar. Semua itu adalah kegiatannya
sehari-hari dan tidak terasa 6 tahun berlalu. Ia memulai masa remajnya.
Setelah lulus Ambariyah melanjutkan
pendidikan ke MTS Kanci. Kegiatannya sehari-hari mulai bertambah. Ia bangun
sebelum subuh untuk memasak dan mencuci baju disungai. Setelah itu ia berangkat
dengan kakaknya menggunakan sepeda dengan membawa padi untuk dibawa ke tempat
penggilingan padi. Setelah pulang sekolah ia memasak dengan adiknya tetapi ia
mendapat bagian memasak sayur dan adiknya menanak nasi. Setelah memasak ia
pergi kesawah untuk membantu ibunya agar esok pagi ia mendapat uang saku. Ketika
sore hari ia selalu diam-diam bermain voli dengan teman-temanya karena ibunya
melarangnya bermain voli. Akan tetapi meskipun ia diam-diam bermain voli, ia
selalu katahuan oleh ibunya. Ia biasanya dihukum dan dimarahi habis-habisan
oleh ibunya. Meskipun demikian, Ambariyah dapat membuktikan pada ibunya ketika
ia dan teman-temannya mendapat juara 1 mewakili sekolahnya. Ibu saya juga serin
menang ketika lomba dengan teman-temannya di desanya. Ketika malam tiba, Ambariyah
belajar sambil menjaga warung ibunya karena ibunya mulai membuka warung.
Biasanya ia belajar dengan teman-temannya karena ayah teman-temannya sering dating
ke warung untuk menonton televisi.
Setelah tiga tahun menempuh pendidikan,
ia melanjutkan lagi ke PGAN Magelang. Masa-masanya sudah berbeda, ia tumbuh
dewasa dengan kegiatan-kegiatan sehari hari membantu ibunya. Setelah tiga tahun
menempuh pendidikan, ia akhirnya lulus. Ambariyah tidak melanjutkan
pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi.
Ambariyah dijodohkan dengan lelaki
satu desa dengannya. Lelaki itu lebih tua tujuh tahun dari dirinya. Lelaki itu
bernama Samsul Bahri dan nama akrabnya Samsul. Samsul bekerja sebagai PNS di
peterikanan. Akhirnya ia menikah pada tahun 1990. Pernikannya diadakan cukup
meriah. Ambariyah mengelilingi desa agar terkesan jauh berjalan diiringi dengan
tarian Jatilan.
Setelah menikah selama dua tahun,
Ambariyah dan suaminya dikaruniai satu anak laki laki bernama Roghib dan anak
perempuan bernama Agista. Setelah itu, Ambariyah memutuskan untuk bekerja agar
tidak hanya mengandalkan gaji suaminya. Ia mulai bekerja sebagai guru di Mi
Salamkanci 1 pada tahun 1992. Pada tanggal 12 Juni 1994 Ambariyah dikarunia lagi anak
laki-laki bernam Iqbal Sambahari. Ambariyah kemudian melanjutkan pendidikan ke
Stain Salatiga.
Pada tanggal 16 April 2001 lahirlah anak
keempat yang bernama Silva. Ketika anak keempatnya kelas dua di MI Salamakanci
1, Ambariyah melanjutkan pendidikannya lagi di IAIN Salatatiga. Setelah melanjutkan
pendidikan pada tanggal 8 Mei 2009 lahirlah anak terakhirnya bernama Kaka.
Perjalanan yang Ambariyah dan suaminya
membuahkan hasil. Pahit dan manisnya kehidupan mereka lalui hingga kini anak
pertamanya bekerja di Dinas Peterikanan tempat suaminya bekerja, putri keduanya
menjadi guru bahasa inggris di sekolah dasar, anak ketiganya sedang menempuh
pendidikan di UNTIDAR Magelang, dan anak keempatnya menempuh pendidikan di SMAN
2 Magelang serta anak terakhirnya yang masih kecil duduk di kelas 2 MI
salamkanci 1.






