Minggu, 04 Juni 2017

Tugas Bahasa Indonesia Membuat Teks Biografi

          
Kisah Perjalanan Hidup Ambariyah
Ambariyah lahir di Magelang, pada tanggal 31 Desember 1971. Ia lebih akrab dipanggil Ambar di desanya. Ambariyah lahir dari pasangan yang bernama Mujazin dan Siti Dariyah. Bapaknya bekerja mengurus kerbau-kerbaunya serta menjual kambing dan sapi di pasar hewan. Ibunya bekerja di sawah mengurus padi dan sayuran di sawah miliknya. Ia adalah anak kelima dari sepuluh bersaudara. Ia tinggal di desa Semali Salamkanci Bandongan Magelang.
          Ambariyah memulai pendidikannya di SDN 2 Salamkanci yang tak jauh dari rumahnya. Ia berangkat bersama teman-temannya dengan berjalan kaki. Sebelum berangkat sekolah biasanya ia menyiapkan sarapan untuk adik-adiknya dan ayahnya. Ia selalu mendapat bagian menanak nasi. Setelah itu berangkat ke sekolah. Pulang sekolah ia langsung memasak lagi untuk makan ayahnya karena ibunya yang berada di sawah. Ketika sore hari tiba, ia biasanya bermain bersama teman-temannya ke sawah mencari buah-buahan atau bermain masak-masakan serta bermain kesungai untuk mandi atau bermain air. Malam harinya ia pergi mengaji dengan kakaknya dan adiknya. Ia mengaji di tempat saudaranya. Biasanya Ia dan kakaknya pulang paling akhir karena menunggu adiknya yang selalu kena hukuman karena tidak hafal saat disuruh untuk hafalan ke depan. Setelah mengaji ia pulang kerumah langsung makan dan berlajar. Semua itu adalah kegiatannya sehari-hari dan tidak terasa 6 tahun berlalu. Ia memulai masa remajnya.
          Setelah lulus Ambariyah melanjutkan pendidikan ke MTS Kanci. Kegiatannya sehari-hari mulai bertambah. Ia bangun sebelum subuh untuk memasak dan mencuci baju disungai. Setelah itu ia berangkat dengan kakaknya menggunakan sepeda dengan membawa padi untuk dibawa ke tempat penggilingan padi. Setelah pulang sekolah ia memasak dengan adiknya tetapi ia mendapat bagian memasak sayur dan adiknya menanak nasi. Setelah memasak ia pergi kesawah untuk membantu ibunya agar esok pagi ia mendapat uang saku. Ketika sore hari ia selalu diam-diam bermain voli dengan teman-temanya karena ibunya melarangnya bermain voli. Akan tetapi meskipun ia diam-diam bermain voli, ia selalu katahuan oleh ibunya. Ia biasanya dihukum dan dimarahi habis-habisan oleh ibunya. Meskipun demikian, Ambariyah dapat membuktikan pada ibunya ketika ia dan teman-temannya mendapat juara 1 mewakili sekolahnya. Ibu saya juga serin menang ketika lomba dengan teman-temannya di desanya. Ketika malam tiba, Ambariyah belajar sambil menjaga warung ibunya karena ibunya mulai membuka warung. Biasanya ia belajar dengan teman-temannya karena ayah teman-temannya sering dating ke warung untuk menonton televisi.
          Setelah tiga tahun menempuh pendidikan, ia melanjutkan lagi ke PGAN Magelang. Masa-masanya sudah berbeda, ia tumbuh dewasa dengan kegiatan-kegiatan sehari hari membantu ibunya. Setelah tiga tahun menempuh pendidikan, ia akhirnya lulus. Ambariyah tidak melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi.
          Ambariyah dijodohkan dengan lelaki satu desa dengannya. Lelaki itu lebih tua tujuh tahun dari dirinya. Lelaki itu bernama Samsul Bahri dan nama akrabnya Samsul. Samsul bekerja sebagai PNS di peterikanan. Akhirnya ia menikah pada tahun 1990. Pernikannya diadakan cukup meriah. Ambariyah mengelilingi desa agar terkesan jauh berjalan diiringi dengan tarian Jatilan.
          Setelah menikah selama dua tahun, Ambariyah dan suaminya dikaruniai satu anak laki laki bernama Roghib dan anak perempuan bernama Agista. Setelah itu, Ambariyah memutuskan untuk bekerja agar tidak hanya mengandalkan gaji suaminya. Ia mulai bekerja sebagai guru di Mi Salamkanci 1 pada tahun 1992. Pada tanggal 12  Juni 1994 Ambariyah dikarunia lagi anak laki-laki bernam Iqbal Sambahari. Ambariyah kemudian melanjutkan pendidikan ke Stain Salatiga.
 Pada tanggal 16 April 2001 lahirlah anak keempat yang bernama Silva. Ketika anak keempatnya kelas dua di MI Salamakanci 1, Ambariyah melanjutkan pendidikannya lagi di IAIN Salatatiga. Setelah melanjutkan pendidikan pada tanggal 8 Mei 2009 lahirlah anak terakhirnya bernama Kaka.
          Perjalanan yang Ambariyah dan suaminya membuahkan hasil. Pahit dan manisnya kehidupan mereka lalui hingga kini anak pertamanya bekerja di Dinas Peterikanan tempat suaminya bekerja, putri keduanya menjadi guru bahasa inggris di sekolah dasar, anak ketiganya sedang menempuh pendidikan di UNTIDAR Magelang, dan anak keempatnya menempuh pendidikan di SMAN 2 Magelang serta anak terakhirnya yang masih kecil duduk di kelas 2 MI salamkanci 1.

Selasa, 04 April 2017

Berkunjung ke Tempat Nenek Moyang (Museum Sangiran)

LAPORAN PERJALANAN KE SANGIRAN




Sangiran berada di sebuah daerah pedalaman yang terletak di kaki Gunung Lawu, tepatnya sekitar 17 Km ke arah utara dari Kota Solo. Museum Sangiran terletak di KalijambeKabupaten Sragen, Provinsi Jawa TengahSangiran mempunyai luas mencapai 56km² yang mencakup tiga kecamatan di Kabupaten Sragen yaitu Kec. Kalijambe, Kec. Gemolong dan Kec.Plupuh serta Kec.Gondangrejo di Kabupaten Karanganyar. Secara astronomi terletak pada 7o 25' - 7o 30' LS dan pada 4o - 7o 05' BT (Moelyadi dan Widiasmoro, 1978).

Pada tanggal 2 Maret 2017 kami rombongan kelas 10 SMA Negeri 2 Magelang berkunjung ke situs yang paling penting di dunia untuk mempelajari fosil manusia. Kami menempuh perjalanan yang cukup jauh hingga akhirnya kami sampai. Kami disambut dengan gerbang berbentuk gading raksasa.
Pada masa purba sangiran adalah hamparan lautan, tetapi akibat adanya proses geologi dan bencana alam letusan Gunung Lawu, Gunung Merapi, dan Gunung Merbabu, Sangiran menjadi daratan. Hal tersebut dibuktikan dengan lapisan-lapisan tanah pembentuk wilayah Sangiran yang sangat berbeda dengan lapisan tanah di tempat lain.
Pada awalnya penelitian Sangiran adalah sebuah kubah yang dinamakan Kubah Sangiran. Puncak kubah ini kemudian terbuka melalui proses erosi sehingga membentuk depresi. Pada depresi itulah dapat ditemukan lapisan tanah yang mengandung informasi tentang kehidupan di masa lampau.
Penelitian situs sangiran diawali oleh Eugene Dubois pada tahun 1893. Penelitian selajutnya dilakukan oleh GHR Von Koenigswald yang menemukan banyak fosil diantaranya menemukan sejumlah alat serpih dari bahan batuan jaspis dan kalsedon di sekitar bukit Ngebung pada tahun 1934. Pemuan alat-alat serpih yang kemudian terkenal dengan istilah ‘Sangiran Flakes-industry’ tersebut diperkirakan berasal dari lapisan (seri) Kabuh Atas yang berusia Plestosen Tengah. Pada tahun 1936 menemukan fosil rahang atas manusia yang ia beri nama fosil Megantrophus Paleojavanicus. Tahun 1973 dia juga berhasil menemukan manusia purba yang dicari oleh Eugene Dubois yaitu Pithecanthropus Erectus. Setelah masa pasca Koenigswald atau pada sekitar tahun 1960-an, penelitian terhadap fosil-fosil hominid dan paleotologis di situs ini kemudian diambil alih oleh para peneliti dari Indonesia (antara lain T. Jacob dan S. Sartono). Pada tahun 1977 situs Sangiran dideklarasikan oleh Mentri Pendidikan dan Kebudayaan dan pada tahun 1996 terdaftar dalam situs warisan dunia oleh UNESCO.

A.  Koleksi Museum Sangiran :
1.    Fosil manusia
Australopithecus Africanus, Pithecanthropus Mojokertensis (Pithecantropus Robustus), Meganthropus Palaeojavanicus, Pithecanthropus Erectus, Homo Soloensis, Homo Neanderthal Eropa, Homo Neanderthal Asia, dan Homo Sapiens.


2.    Fosil binatang bertulang belakang,
Elephas Namadicus (gajah), Stegodon Trigonocephalus (gajah), Mastodon sp (gajah), Bubalus Palaeokarabau (kerbau), Felis Palaeojavanica (harimau), Sus sp (babi), Rhinocerus Sondaicus (badak), Bovidae (sapi, banteng), dan Cervus sp (rusa dan domba).

 
3.    Fosil binatang air,
Crocodillus sp (buaya), ikan dan kepiting, gigi ikan hiu, Hippopotamus sp (kuda nil), Mollusca (kelas Pelecypoda dan Gastropoda ), Chelonia sp (kura-kura), dan Foraminifera.


4.    Batu-batuan
Meteorit/Taktit, Kalesdon, Diatome, Agate, Ametis.
5.    Alat-alat batu
Serpih dan bilah, serut dan gurdi, kapak persegi, bola batu dan kapak perimbas-peneta.